Langsung ke konten utama

GUNUNG PAPANDAYAN: PENDAKIAN PERTAMA

Pohon yang telah hangus

Semua barang yang tercantum dalam list barang bawaan telah aku persiapkan jauh-jauh hari, jarang-jarang kejadian seperti ini, menyiapkan barang untuk perjalan dengan begitu semangatnya, biasanya H-2 atau yang lebih parah Hari-H baru disiapkan. Ya, secara ini adalah bakal pengalaman pendakian pertamaku, biasanya hanya hiking ala kadarnya, itupun zaman masih sekolah dulu. Tak tahu sekarang, sudah semakin tua :D
Perjalanan menuju Garut, kami tempuh dengan bus Jakarta-Garut selama 3-4 jam. Tak hanya cukup dengan bus, sampai di terminal masih harus lanjut dengan angkot. Oke, kisahpun dimulai... angkot yang kami tumpangi macetttt dengan kondisi hujan deras dan jalanan yang tidak rata alias naik turun kelak kelok padahal angkot penuh sesak dengan manusia ditambah muatan ransel-ransel raksasa para pendaki, ngeri banget kalau tiba-tiba mundur sendiri. Beberapa menit pun berlalu, syukur mesin angkot hidup lagi, tak perlu ganti angkot dih... 
Gapura arah gunung papandayan samar-samar mulai tampak, semangat semakin membara untuk segera memulai pendakian. Kami putuskan makan siang dulu sebelum memulai pendakian sekalian packing ulang merapikan barang-barang dan sholat di sana.
Tips: Masukkan barang-barang dalam kantong sesuai klasifikasinya, misal: makanan, pakaian, obat-obatan, peralatan mandi, dsb. Sehingga barang tidak tercampur berantakan dan mudah untuk mengambilnya serta aman jika hujan turun.
Untuk sampai ke lokasi pusat lapor pendakian Gunung Papandayan, kami masih harus menyewa mobil bak. Satu mobil untuk rombongan kami 8 orang ditambah rombongan lain 5 orang dari Karawang. Dan 13 orang dalam mobil bak ini akhirnya melebur menjadi satu tim, kami mendaki bersama dari awal hingga akhir. Salut, kami baru bertemu siang itu di atas bak, tapi dalam satu visi yang sama, kami bisa bercanda, tertawa, terbahak dan bercerita apa saja seolah telah kenal lama. Aku yang baru pertama kali mendaki hanya bisa berdecak kagum...
Mas Maman, leader sekaligus yang pernah menaklukkan Papandayan segera memimpin perjalanan malam hari. Supaya bisa sampai di lokasi pertama tepat waktu. Cukup dingin untuk sebuah pendakian malam hari ditambah dengan aroma belerang yang menusuk hidung. Dan 'Break'... menjadi kata yang sangat saya cintai waktu itu, hahaha... Istirahat sejenak, meluruskan kaki dan mengatur nafas.
Tips: Makanan manis sangat baik untuk membangkitkan tenaga, dan sangat cukup dengan buah kurma plus air putih baik untuk hidrasi.
1. Pondok Seladah
Pondok Seladah, destinasi pertama setelah perjalanan 3 jam. Sebuah padang rumput tempat mendirikan tenda para pendaki. Sejenak terlelap menyiapkan tenaga untuk perjalanan berikutnya. Atau menikmati gugusan bintang yang begitu mempesonanya di hamparan langit luas ditemani secangkir teh hangat hasil rebusan ala kadarnya.
Fajar pun beranjak, tampak aneka warna tenda menghiasi sekitar tenda kami seperti kepik-kepik kecil di dedaunan, indah. Malam itu semua tampak gelap dan hanya bintang yang bisa kami nikmati dengan tegasnya. Matahari kini mulai bersiap menampakkan dirinya, para pendaki termasuk rombongan kami pun mulai bersiap untuk meninggalkan pondok seladah dan melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, taman bunga abadi.

Tenda Hijau bukan Tenda Biru :D

Padang Rumput Pondok Seladah
2. Tegal Alun - Taman Edelweiss si Bunga Abadi
"Aku tak tahu apa yang akan aku lihat setelah perjuangan ini, aku hanya yakin bahwa aku akan melihat sesuatu yang indah di sana, inilah yang membuatku tak menyerah."
Edelweiss itu bohong, aku tak percaya dengan bunga abadi, apalagi hanya bisa tumbuh di pegunungan, bentuknya saja seperti rumput kering biasa, itulah yang ada di benakku saat pertama kalinya melihat bunga edelweiss zaman sekolah dulu. Dan semua rasa penasaran bertahun-tahun tersebut akhirnya terbayarkan sudah, Tegal Alun, taman Edelweiss (Anaphalis javanica) si bunga abadi yang tersembunyi di atas gunung, dan sejauh mata memandang hanyalah hamparan tanaman bunga Edelweiss. Edelweisss...!!! Bunga yang begitu dijaga dan tak boleh sembarangan dipetik. Tanaman yang bisa tetap bertahan meskipun pohon-pohon disekitarnya telah mati tersiram lahar panas.

Tanjakan Mamang (Tanjakan ke Tegal Alun)

Tegal Alun (Taman Edelweiss)

Anaphalis Javanica
3. Hutan Mati
Gunung Papandayan termasuk gunung berapi yang aktif dan pernah meletus dengan dahsyatnya sehingga mengakibatkan pepohonan di sekitarnya yang tersiram lahar panas pun mati seperti bekas terbakar dan hanya menyisakan batang-batang kering namun tetap berdiri dengan kuat. Tanah pun tak lagi coklat melainkan berwarna putih seperti tanah kapur.

Hutan Mati

Tim Papandayan :D
4. Telaga - Kawah
Kawah Papandayan merupakan komplek gunung berapi yang masih aktif seluas 10 Ha. Pada komplek kawah terdapat lubang-lubang magma yang besar maupun kecil, dari lubang-lubang tersebut keluar asap/uap air hingga menimbulkan berbagai macam suara yang unik (wikipedia.com).
Untuk menuju ke lokasi kawah dibutuhkan perjuangan yang lebih dahsyat dibandingkan saat akan menuju Tegal Alun, tebing yang curam dengan beban ransel di pundak menjadi tantangan tersendiri. Mata dengan jeli mencari batu pijakan diantara pasir-pasir kuning yang meyelimuti tebing. Kondisinya kami harus menuruni tebing untuk mencapai kawah, sehingga memang harus tetap mencari pegangan supaya tidak meluncur ke dalam jurang.
Merambat atau Meluncur...?

Kawah Papandayan nan mengepul
Tips: Meskipun tebing curam tersebut berpasir, perhatikan batu pijakan, kondisi alas kaki, dan teman satu tim, pengaruh mereka sangat besar untuk kesuksesan melewati tebing ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STASIUN AWARD?

Ngomong-ngomong soal stasiun di Indonesia. Wara wiri naik alat transportasi kereta api membuat saya sedikit lebih jatuh hati pada kereta api dan uborampa inya. Tak salah jika terdapat beberapa stasiun yang cukup berkesan (bagi saya). Stasiun Award versi Nur kali yak...?#$%@!&? www.google.com Stasiun Gubeng di Surabaya, adalah stasiun yang sangat modern dan bersih, persis seperti bandara. Kesan tua dan jadulnya stasiun terpatahkan di sini. Stasiun Balapan Solo. Ini nih, stasiun yang penuh dengan kenangan, stasiun yang selalu bikin dag dig dug dueerrr. Bahagia saat kereta dari Jakarta tiba di Solo. Menginjakkan kembali kaki di kampung halaman itu sungguh kebahagiaan luar biasa. Stasiun Balapan Solo semakin ngangeni dengan kehadiran musisi-musisi keroncong lokal yang setia melantunkan lagu-lagu kenangan mengantarkan para perantau tak terkecuali lagunya Didi Kempot-Stasiun Balapan Solo. Stasiun Tugu Yogyakarta, lumayan modern dan bersih juga. Keluar dari stasiun hanya tingga...

KULINER KHAS KAMPUNG KELING MEDAN

Laughter is brightest, where food is best -Irish Proverb- Jika berkunjung ke Medan Sumatera Utara, jangan lupa mampir ke kawasan Kuliner Pagaruy. Ada apa di sana? Kawasan Kuliner Pagaruy masih dalam wilayah kampung Keling, Perkampungan orang-orang India, sehingga kita bisa menemukan aneka makanan khas ber- curry . Warung-warung yang menjajakan aneka kuliner khas Timur berjajar panjang seolah menjadi pasar persaingan sempurna. Kami memesan Nasi Kebuli, Roti Jala, dan Roti Kerucut. Nasi Kebuli Nasi yang diolah dengan rempah-rempah, aroma wangi rempahnya begitu kuat. Aku tak begitu kuasa menelannya apalagi ditambah lauk kare daging yang berkuah kental dan berempah. Roti Jala Roti yang dimasak dengan cetakan jaring-jaring ini lebih bersahabat di lidahku. Diolah dengan tepung tawar dan berlauk kuah kare daging kambing, aku cukup menikmatinya.

TAMAN SAFARI MALAM: CIRQUE DU FREAK

Bukan... ini bukan film vampirenya Darren Shan yang menyadari kekuatannya di dunia sirkus. Cirque du Freak kali ini tentang perform teman-teman sirkus asli Bogor yang tampil di panggung wisata malam Taman Safari. Saat melihat penampilan mereka, pikirku seketika melayang terbang menuju camp para pemain sirkus di film cirque du freak vampire's assistant, tali temali, api, balok keseimbangan, dan perlengkapan sirkus lainnya seolah memenuhi pikiranku. Disiplin dan kerja keras dalam latihan menjadi kunci utama keberhasilan mereka. Bukan sulap, bukan sihir, tapi sebuah karya cantik dari keseimbangan otak. Berdiri di atas balok yang terus bergerak maju mundur, menari dengan api, melipat-lipat badan, sungguh bukanlah pekerjaan gampang, satu dua kali gagal tak menjadi masalah. "Tahu... Tahu... Tahu Sumedangnya, teh?" Tawar beberapa penjaja jajanan di sepanjang jalan raya menuju puncak. Akhirnya, sampai puncak juga. Taman Safari... aku datanggg! Taman Safari seolah masih nyam...